Perubahaan taktik tak terduga dari Guardiola

Seperti yang disebutkan di atas, ada dugaan diturunkannya Mkhitaryan dan Lingard adalah untuk menekan sayap Man City. Lalu, kenapa Mourinho melakukan hal ini, mengubah susunan terbaiknya yang menghasilkan empat kemenangan beruntun?

Hal ini dilakukan karena ada kecenderungan tertentu taktik Guardiola di beberapa laga terakhir. Kecenderungannya adalah menggeser full-back (bek sayap) ke tengah untuk menjadi poros ganda. Fernandinho sebagai gelandang bertahan kemudian turun sehingga City bertransformasi menjadi tiga bek saat bangun serangan.

Namun ternyata taktik seperti itu tidak digunakan oleh Guardiola. Ia sudah menyiapkan alternatif strategi lain. Kenapa kami berani bilang dipersiapkan, karena memang dieksekusi dengan baik di lapangan.

City memang masih bertransformasi menjadi tiga bek ketika membangun serangan, bek tengah juga masih melebar. Hanya saja peran Fernandinho yang turun telah digantikan oleh Bravo. Sang penjaga gawang menjadi sosok penting dalam usaha City untuk keluar dari tekanan lini depan MU.

Karena Fernandinho tidak turun maka full-back tidak perlu lagi untuk bergerak ke tengah. Kolarov dan Sagna bisa tetap berada di sisi lapangan untuk menjaga sayap-sayap MU. Strategi ini juga terbantu berkat penampilan baik John Stones dalam melakukan distribusi bola. Pemain asal Inggris ini tetap tenang dan tidak panik membuang bola bahkan ketika ditekan.

Tim tamu makin tenang dalam bermain terutama pada babak pertama karena tekanan yang dilakukan MU sangat buruk. Mourinho berkali-kali terlihat meminta para pemainnya untuk terus naik ke depan. Namun City masih bisa terus keluar dari tekanan dengan mudah, salah satunya karena kemampuan Bravo dalam mendistribusikan bola.

Justru dengan naiknya garis pertahanan MU yang dibarengi dengan pressing yang buruk, ini membawa petaka. De Bruyne berhasil memanfaatkan kesalahan Blind dalam antisipasi sundulan Iheanacho dari tengah lapangan. Kolarov sendiri dengan bebas mengirimkan umpan jauh padahal seharusnya Mkhitaryan melakukan pressing. Gol pertama kemudian tercipta dan membuat tuan rumah tertekan sehingga menjadi terburu-buru dalam menyerang.

Yang tersaji pada babak pertama, City dengan mudahnya keluar dari tekanan yang dilancarkan lini depan MU. Pressing tuan rumah yang belum maksimal inilah yang membuka jalan bagi lini tengah City dalam berkreasi.

Padahal jika melihat menit-menit awal, Mourinho sepertinya menyiapkan timnya ini untuk menunggu, baru melakukan serangan balik. Bek MU uga mengalami dilema karena di depan City selalu bersiaga tiga pemain yang punya kecepatan. Iheanacho, Sterling, dan Nolito siap menerima umpan terobosan. Belum lagi waspada munculnya pemain dari lini kedua seperti Silva dan De Bruyne.

Iheanacho juga menjalankan perannya dengan baik sebagai false nine menggantikan Aguero. Pergerakannya memudahkan lini tengah City dalam keluar dari tekanan yang dilakukan MU di area tengah. Silva dan De Bruyne tampak leluasa menguasai lini tengah karena pergerakan Iheanacho yang mengganggu fokus penjagaan pemain yang harus dilakukan Paul Pogba dan Marouane Fellaini.

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*